Pada dasarnya prinsip kerja trasistor sebagai saklar adalah memanfaatkan kondisi jenuh dan cut-off suatu transistor, dimana kedua kondisi ini bisa diperoleh dengan pengaturan besarnya arus yang melalui basis transistor. Kondisi jenuh atau saturasi akan diperoleh jika basis transistor diberi arus cukup besar sehingga transistor mengalami jenuh dan berfungsi seperti saklar yang tertutup. Sedangkan kondisi cut-off diperoleh jika arus basis dilalui oleh arus yang sangat kecil atau mendekati nol ampere, sehingga transistor bekerja seperti saklar yang terbuka.
Sebenarnya seri dan jenis transistor memiliki spesifikasi yang
berbeda-beda mengenai arus yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi jenuh
atau cut-off. Tetapi biasanya tidak terlalu jauh berbeda kecuali terbuat
dari bahan semikonduktor yang berbeda (silikon atau germanium).
Fungsi transistor sebagai saklar berbeda dengan fungsi transistor
sebenarnya sebagai penguat. Sebagai penguat transistor akan bekerja pada
titik Q atau kondisi kerja transistor. Secara sederhana titik Q ini
berada antara kondisi jenuh dan cut-off, jadi pada kondisi ini
transistor akan bekerja sebagai penguat.
Coba gambar di bawah, saya akan memberi penjelasan dana analisa
singkat mengenai cara kerja transistor sebagai sebuah saklar terbuka dan
tertutup.
![]() |
Prinsip kerja suatu transistor sebagai saklar |
Pada rangkaian transistor sederhana di atas, terdapat satu buah lampu
yang kita ibaratkan sebagai sebuah beban. Satu buah transistor NPN yang
nantinya akan menggantikan fungsi kerja suatu saklar. Satu buah potensio
meter digunakan supaya anda bisa melakukan analisa pada kondisi arus
basis yang berbeda-beda dengan melakukan variasi kondisi dari potensio
tersebut.
Pada saat potensio meter kita putar pada kondisi dimana arus basis akan
menjadi besar, maka kolektor dan emitor transistor tersebut akan bekerja
seperti kawat yang terhubung. Sehingga pada kondisi ini lampu akan
menyala. Sesuai pengalaman yang pasti pada transistor bahan silikon,
tegangan Vbe (tegangan basis emitor) tidak kurang dari 0,7 volt. Tapi
salah satu hal penting yang harus anda ketahui adalah jangan terlalu
besar memberikan arus pada basis, karena akan berakibat kerusakan pada
transistor. Gunakan tahanan basis (resistor yang dipasang pada basis)
sebagai pencegah arus berlebih pada saat potensio resistasinya nol ohm.
Karena jika potensio kita putar hingga pada kondisi resistansinya nol
ohm, maka sama saja kita menghubungkan basis transistor dengan supply 9
volt langsung. Kondisi ini pasti akan mengakibatkan kerusakan pada
transistor.
Jika potensio meter tersebut di atas kita putar pada kondisi resistansi
sangat besar (misal : maks 100 Kohm), maka arus yang akan melalui basis
akan sangat kecil atau dengan kata lain tegangan yang akan jatuh pada
basis dan emitor akan sangat kecil (dibawah 0,7 volt bahkan mendekati 0
volt), pada kondisi ini transistor akan berada pada kondisi cut-off,
kondisi dimana kolektor dan emitor bagai saklar yang terbuka. Jadi pada
kondisi ini beban lampu tidak akan mendapatkan supply listrik sehingga
tidak akan menyala.
Lihat pada gambar di atas, saya berikan contoh dua saklar yang berada
sejajar dengan transistor. Saklar SW1(kondisi terbuka) itu sama halnya
jika transistor mengalami cut-off. Sedangkan saklar SW2 (tertutup) sama
halnya dengan transistor pada kondisi jenuh.
Memang secara perhitungan sebenarnya tidak sesederhana itu, karena ada
rumus tertentu untuk menghitung arus atau tegangan pada setiap titik
transistor (basis, kolektor dan emitor). Tapi kira-kira secara sederhana
ya seperti itu. Jika anda sudah terbiasa membuat rangkaian elektronika,
maka anda akan tahu berapa nilai resistor yang pas untuk mengkondisikan
transistor sebagai sebuah saklar. Karena jika selalu menggunakan
perhitungan terlebih dahulu, maka anda akan kesulitan mengembangkan
rangkaian yang lebih komplek.
Apa kekurangan dan kelebihan transistor sebagai saklar ?
Sesuai pengalaman pribadi adapun kekurangan dari saklar transistor ini
yaitu kecilnya arus beban yang mampu disaklarkan, jadi beban yang cocok
harus dipilah-pilah terlebih dahulu. Jika tidak anda akan menghabiskan
banyak transistor sebab selalu rusak akibat dispasi daya yang
belebihan.
Adapun kelebihan dari pensaklaran transistor ini yaitu bisa untuk
pensaklaran yang sangat cepat, tidak terjadi bouncing (seperti halnya
pada pensaklaran mekanik dengan relay). Karena tidak menggunakan
peralatan mekanik seperti saklar-saklar umumnya, maka transistor ini
cocok untuk mensaklarkan rangkaian digital yang memerlukan kecepatan,
keakuratan serta hanya supply tegangan yang kecil.
Artikel Terkait :
Prinsip Kerja Rangkaian Elektronika
- Rangkaian Timer Sederhana
- Skema Rangkaian Lampu Emergency
- Skema Rangkaian Pengusir Tikus
- Skema Rangkaian Sirine Polisi
- Skema Rangkaian Pemancar Radio FM
- Skema Rangkaian Inverter
- Skema Rangkaian Sensor Gerak Infra Merah
- Frekuensi Suara Yang Bisa Didengar Binatang
- Rangkaian Driver Speaker
- Skema Rangkaian Power Amplifer 100 Watt
No comments:
Post a Comment